Nilainilai filosofis perkawinan adat Manggarai dapat digambarkan dalam beberapa ungkapan berikut: 1. perkawinan mengungkapkan kebutuhan dasar manusia untuk berada bersama dengan Yang Lain dalam suatu ranah kehidupan yang sejahtera, subur dan berkembang, seperti ungkapan "saung bembang ngger eta, wake seler ngger wa".
Dimanapada Nusa Tenggara Timur ini juga mempunyai 7 suku yang berbeda, diantaranya adalah suku Rote, suku Dawan, suku Helong, suku Sabu, suku Sumba, suku Lio dan juga Suki Manggarai. Pada setiap suku tersebut tentunya mempunyai suatu kebudayaan yang membedakan antara satu dengan yang lainnya, salah satunya adalah pakaian adat.
Sebanyak200 tenaga kesehatan (nakes) dari 1.568 nakes di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur siap menerima vaksinasi COVID-19 keempat atau booster kedua sebagai garda ANTARA News mataram nusantara
Biasanyamengenakan baju kebaya pendek dan bagian bawahnya mengenakan kain tenun dua kali lilitan dan tanpa kalimantan timur merupakan salah satu provinsi di indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga yaitu negara bagian sabah dan. Source: i.pinimg.com. Pakaian adat jawa timur dan arti dari pakaian adat tersebut. Source: i.pinimg.com
Songkeadalah tenun khas masyarakat Manggarai yang berdiam di sisi barat Pulau Flores. Kain tenun ini wajib dikenakan saat acara-acara adat. Antara lain saat kenduri (penti), membuka ladang (randang), hingga saat musyawarah (Nempung). Pada tahun 1613-1640 kerajaan Gowa Makasar, Sulawesi Selatan pernah berkuasa di hampir seluruh wilayah
BajuAdat NTT - Nusa Tenggara Timur atau lebih sering disebut sebagai NTT adalah salah satu provinsi yang cukup terkenal dengan destinasi wisatanya alamnya.Menjadi bagian dari Kepulauan Sunda kecil, tidak heran kalau provinsi yang satu ini terdiri dari banyak pulau. Pulau-pulau tersebut punya daya tarik yang dimanfaatkan oleh pemerintah untuk dijadikan destinasi wisata.
BajuAdat Manggarai Ntt. Mengenal daerah manggarai adalah sebuah kabupaten yang ada di provinsi nusa tenggara timur indonesia bagian timur. 2.3 baju adat suku rote. Pin di BAJU ADAT NTT from adat nusa tenggara timur. Baju adat yang dimiliki oleh suku dawan yang bernama baju amarasi. Pakaian adat ntt selanjutnya datang dari suku
9n7c. Jumlah Pengunjung 17,644 Baju Adat NTT – Nusa Tenggara Timur atau lebih sering disebut sebagai NTT adalah salah satu provinsi yang cukup terkenal dengan destinasi wisatanya alamnya. Menjadi bagian dari Kepulauan Sunda kecil, tidak heran kalau provinsi yang satu ini terdiri dari banyak pulau. Pulau-pulau tersebut punya daya tarik yang dimanfaatkan oleh pemerintah untuk dijadikan destinasi wisata. Contohnya saja Pulau Komodo, Pulau Flores, dan Pulau Alor. peta provinsi ntt Namun, bukan hanya destinasi wisatanya saja yang khas, NTT juga memiliki banyak nilai-nilai kebudayaan yang mencerminkan keistimewaan dari NTT itu sendiri. Mulai dari rumah adat, kesenian tradisional, hingga baju adatnya. Aneka ragam jenis kebudayaan itu, sebenarnya tidak terlepas dari banyaknya keragaman suku yang ada di NTT. Ada banyak suku yang mendiami provinsi NTT seperti suku Sabu, suku Rote, suku Helong, suku Dawan, suku Sumba, suku Lio, suku Manggarai dan suku-suku lainnya. Maing-masing suku tersebut pastinya memiliki kebudayaan yang menjadi ciri khas mereka, salah satunya adalah baju adat. Nah, agar kalian lebih mengenal salah satu bagian dari kebudayaan di NTT, di bawah ini akan dijelaskan 5 baju adat NTT yang menjadi simbol khas setiap suku. 1. Baju Adat Suku Rote Baju Adat Suku Rote, Baju Adat NTT – Foto Baju adat yang menjadi ciri khas paling utama dari NTT adalah baju adat dari suku Rote. Menjadi baju adat tingkat Nasional untuk provinsi NTT, baju ini ternyata memiliki ciri khas, nilai-nilai filosofis, sejarah serta keunikan bentuk tersendiri. Untuk baju adat wanita suku Rote, bentuknya berupa setelan kebaya dan bawahan yang dibuat dari tenunan tangan. Sementara itu, bagian baju adat untuk laki-laki berupa kemeja putih dengan paduan bawahan dari sarung tenun warna gelap. Ada satu hal yang menjadi ciri khas paling penting dari baju adat suku Rote yaitu topi yang dipakai oleh para laki-laki. Topi ini dijuluki dengan Ti’i Langga. Bentuk dari topi ini sering dikatakan mirip dengan topi orang meksiko. Baju Adat NTT ini dibuat dari daun lontar yang kering, topi ini menjadi simbol wibawa bagi laki-laki yang memakainya, dan ada selendang tenun juga yang disampirkan di bahu para laki-laki sebagai aksen pemanis. 3. Baju adat Suku Abui Pulau Alor baju adat suku alor desa takpala – foto Baju adat Nusa Tenggara Timur selanjutnya adalah datang dari suku Abui yang berada di pulau Alor. Keberadaan Suku Abui dengan budayanya dijaga kelestariannya oleh Pemerintah Kabupaten Alor. salah satu desa yang masih bisa menjumpai suku abu adalah di desa takpala. Desa Takpala merupakan sebuah kampung tradisional di Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Lokasi kampung yang berada di atas bukit ini dihuni sekitar 13 kepala keluarga Suku Abui. Salah satu keunikan Suku Abui adalah pakaian tradisional yang ditenun dengan alat tradisional menggunakan tangan. Pakaian itu mereka gunakan untuk menyambut wisatawan yang datang ke kampung mereka, sambil menari lego-lego. Untuk busana biasanya penari menggunakan kain sarung dan kain tenun khas Alor. Untuk para penari pria, mereka menggunakan penutup kepala yang dibentuk dari kain, dan rambut penari wanita dibiarkan terurai. Selain itu, para penari dilengkapi dengan gelang kaki yang menghasilkan bunyi mengikuti langkah kaki para penarinya. 3. Baju Adat Suku Helong pakaian adat suku helong saat acara adat di pulau semau – sumber foto bg win Baju Adat NTT lainnya yang biasa digunakan adalah Baju adat Suku Helong. Sama seperti baju adat suku Rote, baju adat suku Helong juga dibagi dua, yaitu untuk laki-laki dan perempuan. Baju adat wanita suku Helong berbentuk kebaya atau kadang hanya berupa kemben. Lalu, ada sarung yang diikat dengan pending atau ikat pinggang emas. Untuk perhiasan kepalanya berbentuk bula molik atau bulan sabit, pada telinga dikenakan giwang dengan nama karabu, dan pada leher juga dikenakan perhiasan berbentuk bulan. Untuk para lak-laki suku Helong, baju adat yang mereka kenakan berupa baju kemeja atau bodo sebagai atasan, selimut lebar yang diikat untuk bawahan, destar untuk pengikat kepala, dan perhiasan leher yang disebut habas. Baca juga ya Inilah 6 kuliner & Makanan Khas Ende NTT yang Wajib Dicoba Kunjungi 5 Tempat Wisata di Betun Malaka NTT yang indah 4. Baju Adat Suku Sabu Baju Adat Suku Sabu menjadi Baju Adat NTT lainnya yang mungkin bisa kamu coba. Suku ini adalah suku yang mendiami Pulau Sabu di Kabupaten Kupang. Suku ini juga memiliki baju adatnya sendiri untuk para wanita dan laki-laki. Pada wanita, baju adat suku Sabu berupa kebaya dan sarung tenun disertai pending atau ikat pinggang. Pada laki-laki suku Sabu, atasan dari baju adatnya juga berupa kemeja putih lengan panjang. Untuk bawahan dan selendang yang disampirkan berupa sarung tenun. Tidak kalah mewah, ikat kepalanya berupa mahkota 3 tiang terbuat dari emas. Perhiasan lainnya adalah kalung yang disebut mutisalak, kalung habas , satu pasang gelang emas, dan sabuk yang memiliki kantong. 5. Baju adat Suku Manggarai PAKAIAN ADAT SUKU MANGGARAI NTT – foto Tana Manggarai, Flores Baju adat NTT atau baju adat Nusa Tenggara Timur selanjutnya adalah baju adat suku manggarai flores. Suku Manggarai adalah sebuah suku bangsa yang mendiami bagian barat pulau Flores di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Suku Manggarai tersebar di tiga kabupaten di provinsi tersebut, yaitu Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Timur. Suku ini menuturkan bahasa Manggarai, sebuah bahasa yang disebut sebagai tombo Manggarai oleh para penutur aslinya. Bahasa ini mempunyai sekitar 43 subdialek. 6. Baju Adat Suku Dawan Baju Adat Suku Dawan, Baju Adat NTT – Foto Suku Dawan termasuk suku yang mendiami beberapa kabupaten seperti Kupang,, Timor, dan Belu. Baju adat suku yang satu ini dinamai dengan baju adat Amarasi. Untuk wanita, baju Amarasi memiliki beberapa bagian diantaranya atasan berupa kebaya, bawahannya berupa sarung tenun, selendang yang disampirkan untuk menutup dada. Perhiasan baju Amarasi terdiri dari kalung mutisalak, hiasan kepala berbentuk tusuk konde dengan paduan tiga buah koin dan sisir emas. Tidak lupa ada satu pasang gelang berbentuk kepala ular. Sementara itu, untuk laki-laki, atasannya juga berupa kemeja bodo, bawahan berupa selimut tenun yang diikat. Perhiasan berupa kalung habas, serta ikat kepala berhias tiara, kalung mutisalak, dan gelang timor. 7. Baju Adat Suku Sumba Baju adat NTT yang terakhir merupakan baju adat dari suku Sumba. Suku Sumba sebenarnya tidak terlalu banyak pernak-pernik. Wanita sumba biasanya memakai baju adat berupa sarung yang dipakai setinggi dada, lalu bahunya diselimuti dengan kain toba yang memiliki warna senada dengan sarung. Untuk perhiasannya, wanita suku Sumba mengenakan haikara atau tiara bermotif polos, moraga untuk bagian dahi, mamuli berwarna keemasan untuk giwang atau anting, serta kalung emas. Para laki-laki di suku Sumba juga mengenakan kain lebar yang disebut hinggi untuk menutup badan. Lalu, pada bagian kepala memakai penutup kepala yang dililit dan berjambul atau disebut tiara patang. Ada juga kabiala atau parang yang diselipkan pada kiri ikat pinggang, dan perhiasan kanatar dan mutisalak sebagai gelang. ** Kelima macam baju adat NTT diatas menunjukkan kalau provinsi NTT adalah salah satu provinsi yang memiliki banyak kekayaan budaya. Bukan hanya destinasi wisatanya saja yang elok, namun baju adat di setiap sukunya juga sangat menarik dan menjadi ciri khas bagi provinsi NTT.
Kupang ANTARA - Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur mewajibkan aparatur sipil negara ASN di lingkup pemerintahan setempat untuk mengenakan pakaian adat sebagai pakaian dinas resmi pada setiap hari Kamis. "Mulai hari ini Kamis, 23/5/2019 kami luncurkan kebijakan bagi semua ASN di Manggarai Barat untuk memakai pakaian adat khas Manggarai Barat sebagai pakaian dinas resmi," kata Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dula dalam keterangan tertulis yang diterima Antara di Kupang, Kamis 23/5. Ia menjelaskan pakaian adat yang digunakan untuk kedinasan meliputi tenunan songke Manggarai, baju bakok putih untuk laki-laki dan brokat untuk perempuan, selendang, dan sesek sapu destar atau jongkong re’a yang merupakan topi khas Manggarai Barat. Agustinus menjelaskan pemerintah kota menerapkan kebijakan itu sesuai instruksi Gubernur Nusa Tenggara Timur yang mewajibkan semua ASN di NTT mengenakan pakaian adat, sebagai pakaian dinas resmi pada setiap Selasa dan Jumat. "Namun untuk kami di Manggarai Barat diterapkan setiap hari Kamis agar selaras dengan ketentuan nasional," kata Bupati Dula dan menjelaskan ASN dari daerah lain yang bekerja di Manggarai Barat diperbolehkan untuk mengenakan pakat adat khas daerahnya masing-masing. Agustinus Dula mengapresiasi kebijakan tersebut, karena berdampak positif terhadap pertumbuhan usaha pengrajin tenun ikat di Manggarai Barat. "Saya optimistis banyak orang akan mencari tenun ikat songke Manggarai," demikian Agustinus Ch Dula. Baca juga Klaster tenun ikat tumbuhkan ekonomi Sumba Timur Baca juga Kampung Adat Praingu Prailiu jadi galeri tenun ikat
Pakaian Adat Minangkabau – Tanah Minang selain masakannya yang sangat terkenal baik di kancah nasional, maupun mancanegara, Provinsi Sumatera Barat juga dikenal memiliki kebudayaan yang sangat unik. Kebudayaan yang tumbuh subur sejak masa silam tersebut hingga kini dan bahkan tetap terjaga dengan baik. Masyarakat suku Minangkabau dari provinsi Sumatera barat ini yang ibukotanya di kota Padang memang diketahui sangat kuat dalam mempertahankan adat dan budayanya sendiri. Salah satu adat dan budaya yang tetap mereka pertahankan tersebut misalnya dalam hal berpakaian. Baju adat Minangkabau yang sangat dikenal di kancah nasional. Pakaian yang bernama pakaian Bundo Kanduang atau Limpapeh Rumah Nan Gadang ini memiliki keunikan terutama terletak pada bagian penutup kepalanya yang menyerupai bentuk tanduk kerbau atau atap rumah gadang. Pakaian Bundo kanduang merupakan pakaian adat Minangkabau yang dikenakan oleh para wanita yang sudah menikah. Sementara untuk pria maupun untuk sepasang pengantin, dikenal juga jenis pakaian lainnya. Baju Adat Minangkabau Wanita adat budaya minangkabau 1. Pakaian Limpapeh Rumah Nan Gadang. Limpapeh Rumah Nan Gadang atau sering disebut pakaian Bundo Kanduang. Makna pakaian adat Minangkabau ini merupakan lambang kebesaran bagi para istri. Pakaian tersebut merupakan simbol dari pentingnya peran seorang ibu dalam keluarga. Limpapeh memiliki arti tiang tengah dari bangunan rumah adat Minangkabau. Peran limpapeh dalam memperkokoh menegakkan bangunan adalah analogi dari peran ibu dalam sebuah keluarga. Jika limpapeh roboh, maka rumah juga akan roboh. Ini sebuah pesan agar wanita atau seorang ibu yang tidak pandai mengatur rumah tangga. Dan oleh sebab itulah keharmonisan rumah tangga tidak bertahan lama dan hubungannya akan sama roboh. Pakaian Bundo Kanduang atau Limpapeh Rumah Nan Gadang memiliki desain yang berbeda dari setiap sub suku dan hampir sama mirip dengan baju adat Minangkabau anak. Akan tetapi, beberapa kelengkapan khusus yang pasti ada dalam pakaian-pakaian tersebut. Perlengkapan yang dimaksud adalah tingkuluak tengkuluk, baju batabue, minsie, lambak atau sarung, salempang, dukuah kalung, galang gelang, dan beberapa aksesoris yang lain. 2. Tingkuluak Tengkuluk. Tengkuluk merupakan sebuah penutup kepala yang bentuknya menyerupai kepala kerbau atau atap dari rumah gadang. Penutup kepala yang terbuat dari kain selendang ini dikenakan sehari-hari maupun saat dalam upacara adat tertentu. 3. Baju Batabue Baju batabue atau baju bertabur adalah baju adat Minangkabau baju kurung naju yang dihiasi dengan taburan pernik benang emas. Pernik-pernik sulaman benang emas tersebut melambangkan tentang kekayaan alam daerah Sumatera Barat yang begitu berlimpah. Corak dan motif dari sulaman ini pun sangat beragam. Baju batabue dapat kita jumpai dalam 4 varian warna, yaitu warna merah, hitam, biru, dan lembayung. Pada bagian tepi lengan dan leher terdapat hiasan yang biasa disebut minsie. Minsie adalah sulaman yang menyimbolkan bahwa seorang wanita Minang harus taat pada batas-batas hukum adat yang berlaku. 4. Lambak. Lambak atau sarung adalah pakaian bawahan pelengkap pakaian adat Minangkabau Bundo Kanduang. Sarung ini ada yang berupa songket dan berikat. Sarung dikenakan dengan cara diikat pada pinggang. Belahannya bisa disusun di depan, samping, maupun belakang tergantung adat Nagari atau suku mana yang memakainya. 5. Salempang Salempang adalah selendang yang terbuat dari kain songket. Salempang di letakan di pundak wanita. Salempang menyimbolkan bahwa wanita harus memiliki welas asih pada anak dan cucu, serta harus waspada akan segala kondisi. Perhiasan Umumnya seperti pakaian wanita dari daerah lain, penggunaan baju adat Minangkabau untuk wanita juga dilengkapi dengan beragam aksesoris seperti galang gelang, dukuah kalung, serta cincin. Dukuah memiliki beberapa motif, yaitu kalung perada, daraham, kaban, manik pualam, cekik leher, dan dukuh panyiaram. Secara filosofis, dukuah melambangkan bahwa seorang wanita harus selalu mengerjakan segala sesuatu dalam dasar kebenaran. Baca juga Kebudayaan Sumatera Barat Baju Adat Tradisional Pria Minangkabau setya fashion Merupakan baju Sumatera Barat untuk pria bernama pakaian penghulu. Sesuai namanya, pakaian ini hanya digunakan oleh tetua adat atau orang tertentu saja, dimana dalam cara pemakaiannya pun di atur sedemikian rupa oleh hukum adat yang berlaku. Pakaian ini terdiri atas beberapa perlengkapan yang di antaranya Deta, baju hitam, sarawa, sesamping, cawek, sandang, keris, dan tungkek. atau destar adalah sebuah penutup kepala yang terbuat dari kain berwarna hitam gelap biasa yang dililitkan untuk membuat kerutan. Kerutan pada deta melambangkan bahwa sebagai seorang tetua, saat akan memutuskan sesuatu perkara hendaknya terlebih dahulu ia dapat mengerutkan dahinya untuk mempertimbangkan segala baik dan buruk setiap hasil dari sendiri dibedakan berdasarkan pemakaiannya menjadi deta raja untuk seorang raja, kemudaian deta gadang dan deta saluak batimbo untuk penghulu, deta ameh, dan deta cilieng manurun. Baju Baju penghulu umumnya berwarna hitam. Baju ini terbuat dari kain beludru. Warna hitamnya melambangkan tentang makna kepemimpinan. Segala puji dan umpat haru dapat diredam seperti halnya warna hitam yang tak akan berubah meski warna lain ikut adalah celana penghulu yang berwarna hitam. Celana ini memiliki ukuran besar pada bagian betis dan paha. Ukuran inilah yang melambangkan seorang kepala adat atau pemimpin berjiwa besar dalam melaksanakan tugas dan mengambil keputusan atas suatu adalah selendang merah berhias benang makau warna warni yang diletakan di bahu pemakainya. Warna merah selendang melambangkan makna keberanian, sementara hiasan benang makau melambangkan maka ilmu dan atau ikat pinggang berbahan sutra yang dikenakan untuk menguatkan ikat celana sarawa yang longgar. Kain sutra ini melambangkan jika seorang penghulu harus cakap dan lembut saat memimpin, selain itu juga sanggup mengikat jalinan persaudaraan antar masyarakat yang adalah kain merah yang diikatkan di pinggang sebagai pelengkap pakaian adat Minangkabau. Kain merah ini memiliki segi empat, melambangkan bahwa seorang penghulu harus tunduk pada hukum adat yang berlaku. Keris dan TongkatKeris diselipkan di pinggang, sementara tongkat digunakan untuk petunjuk jalan. Kedua kelengkapan ini adalah simbol bahwa kepemimpinan merupakan sebuah amanah dan tanggung jawab besar. Pakaian Pengantin Padang kuto-padang Selain dari baju Bundo Kanduang dan baju penghulu, ada pula jenis pakaian asal Sumatera Barat lainnya yang lazim dikenakan oleh para pengantin dalam upacara pernikahan. Pakaian pengantin ini umumnya berwarna merah dengan tutup kepala dan hiasan yang lebih banyak. Hingga saat ini, pakaian tersebut masih sering digunakan tapi tentunya dengan sedikit tambahan modernisasi dengan gaya atau desain yang lebih unik dan elegan dengan beberapa tambahan modernisasi tersebut baju adat Minang modern akan lebih terkesan bagus. Baca juga Tarian Sumatera Barat Demikianlah penjelasan tentang baju adat Minangkabau dan maknanya. Dengan segala keunikkannya tersebut, pakaian Minangkabau memiliki makna budaya yang kuat. Pada setiap ukiran dan perlengkapan yang ada pada baju tradisional Minangkabau mengandung makna-makna yang menjadi harapan untuk suku Minangkabau sendiri. Semoga artikel ini bermanfaat dan terima kasih.
ArticlePDF AvailableAbstractMasalah utama dalam penelitian ini adalah nilai-nilain kesenian budaya tarian caci pada masyarakat manggarai Desa Kazu wangi Kabupaten Manggarai Timur, bahwa sebagian besar masyarakat Desa Kazu wangi Kabupaten Manggarai Timur sangat antusias dalam melestarikan budaya tarian caci yang merupakan tarian khas masyarakat manggarai pada umumnya, yang merefleksikan kebudayaan dan keseharian masyarakat manggarai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai budaya tarian caci pada masyarakat Manggarai Desa Kazu wangi Kabupaten manggrai Timur, metode penelitian ini menggunakan penelitian etnografi- kualitatif, suatu metode yang menggunakan observasi langsung mengenai kegiatan manusia dalam konteks data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Untuk mengkaji nilai-nilai budaya tarian caci pada masyarakat manggarai Desa Kazu Wangi digunakan pendekatan folklor. Teknik analisis data melelui beberapa tahap yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan, sedangkan teknik keabsahan data menggunakan tringulasi sumber, waktu dan teknik. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa nilai-nilai kesenian budaya tarian caci hanya ada dalam kebudayaan manggrai dan menjiwai semua aspek kehidupan orang manggarai. Tarian caci selalu dipentaskan pasca panen, antara bulan juli sampai dengan september, dan dilakuan selama tiga hari. Tarian tarian caci juga mengandung makna simbolis, melambangkan kejantanan, kepahlawanan , keramaiaan ,kemegahan dan semangat sportivitas yang tinggi. Tarian caci juga memiliki banyak fungsi bagi kelangsungan hidup masyarakat Desa kazu wangi, sebagai komoditas pariwisata, sebagai sarana komunikasi dengan Tuhan dan para leluhur, serta media pendidikan. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. Vol. VII. Issu 2. Juli- De se mber 2019 E_ISSN 2339-2401/P_ISSN 2477-0221 235 Equlibrium Jurnal Pendidikan Sosiologi NILAI KESENIAN BUDAYA TARIAN CACI PADA MASYARAKAT MANGGARAI KABUPATEN MANGGARAI TIMUR Hironimus Jampi1, Muhammad Nawir2, Hadisaputra3 1Pendidikan Sosiologi, Universitas Muhammadiyah Makassar Email hironimusjampi 2Pendidikan Sosiologi, Universitas Muhammadiyah Makassar Email muhammadnawir 3Pendidikan Sosiologi, Universitas Muhammadiyah Makassar Email Abstract. The main problem in this study is the values of dance culture in the Manggarai community, Kazu Wangi Village, East Manggarai Regency, is that most of the Kazu Wangi village people reflect the culture and daily lives of the Manggarai community. This study aims to describe the cultural values of dancing in the Manggarai community, Kazu Wangi Village, East manggrai Regency, this research method uses ethnographic-qualitative research, a method that uses direct research on human activities in socio-culture. Data collection is done by means of observation, interviews, and literature study. To examine the cultural values of the people in Manggarai Village, Kazu Wangi Village is used to request folklore. Analysis of the data in several ways, namely data reduction, data presentation and conclusions, while the validity of the data technique uses source tringulation, time and technique. The results of the study prove that the values of Caci dance culture only exist in Manganggrai and animate all aspects of Manggarai people's lives. The caci dance is always performed after harvest, between July and September, and is performed for three days. Caci dance also contains symbolic meaning, symbolizing virility, heroism, hospitality, grandeur and high sportsmanship spirit. Caci d ance also has many functions for people who live in the village of Kazu Wangi, as a means of tourism, as a means of communication with God and the ancestors, as well as educational media. Keywords Values of Dance Arts and Culture Values. Abstrak. Masalah utama dalam penelitian ini adalah nilai-nilain kesenian budaya tarian caci pada masyarakat manggarai Desa Kazu wangi Kabupaten Manggarai Timur, bahwa sebagian besar masyarakat Desa Kazu wangi Kabupaten Manggarai Timur sangat antusias dalam melestarikan budaya tarian caci yang merupakan tarian khas masyarakat manggarai pada umumnya, yang merefleksikan kebudayaan dan keseharian masyarakat manggarai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai budaya tarian caci pada masyarakat Manggarai Desa Kazu wangi Kabupaten manggrai Timur, metode penelitian ini menggunakan penelitian etnografi- kualitatif, suatu metode yang menggunakan observasi langsung mengenai kegiatan manusia dalam konteks sosial-budaya. Penggumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Untuk mengkaji nilai-nilai budaya tarian caci pada masyarakat manggarai Desa Kazu Wangi digunakan pendekatan folklor. Teknik analisis data melelui beberapa tahap yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan, sedangkan teknik keabsahan data menggunakan tringulasi sumber, waktu dan teknik. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa nilai-nilai kesenian budaya tarian caci hanya ada dalam kebudayaan manggrai dan menjiwai semua aspek kehidupan orang manggarai. Tarian caci selalu dipentaskan pasca panen, antara bulan juli sampai dengan september, dan dilakuan selama tiga hari. Tarian tarian caci juga mengandung makna simbolis, Jurnal Pendidikan Sosiologi Sosiologi Equilibrium Jurnal Pendidikan Sosiologi Vol. VII. Issu 2. J ul i- De se mber 2019 Vol. VII. Issu 2. Juli- De se mber 2019 E_ISSN 2339-2401/P_ISSN 2477-0221 236 Equlibrium Jurnal Pendidikan Sosiologi melambangkan kejantanan, kepahlawanan , keramaiaan ,kemegahan dan semangat sportivitas yang tinggi. Tarian caci juga memiliki banyak fungsi bagi kelangsungan hidup masyarakat Desa kazu wangi, sebagai komoditas pariwisata, sebagai sarana komunikasi dengan Tuhan dan para leluhur, serta media pendidikan. Kata Kunci Nilai-Nilai Kesenian dan Budaya Tarian Caci. PENDAHULUAN Kebudayaan yang sudah melekat dalam masyarakat dan sudah turun temurun sejak dahulu, akan semakin terkonsep dalam kehidupan masyarakat sehingga menjadi sebuah kepercayaan terhadap hal-hal yang berhubungan dengan sebuah keyakinan yang sulit untuk dihilangkan. Kepercayaan-kepercayaan yang masih berkembang dalam kehidupan suatu masyarakat, biasanya dipertahankan melalui sifat-sifat lokal yang dimilikinya. Tarian Caci merupakan kesenian asli Manggarai yang penuh dengan keunikan-keunikan mulai dari jenis tarian, kostum tari, property yang digunakan oleh penari, sampai pada bentuk komposisi musik iringannya. Karena keaslian dan keunikannya tersebut Pemerintah dan beberapa Organisasi-organisasi dari Manggari yang menyebar di seluruh Indonesia mencoba untuk melestarikan tarian Caci sebagai salah satu ciri khas kesenian yang berasal dari Kabupaten Manggarai. Caci adalah salah satu budaya Manggarai yang merupakan ekspresi tradisional budaya Manggarai. Di Manggarai Flores NTT, Tarian Caci merupakan suatu permainan adu ketangkasan antara dua orang laki-laki dalam mencambuk dan menangkis cambukan lawan secara bergantian. Tarian Caci terlihat begitu heroik dan indah karena merupakan kombinasi antara Lomes keindahan gerak tubuh dan busana yang dipakai, Bokak keindahan seni vokal saat bernyanyi , dan Lime ketangkasan dalam mencambuk atau menangkis cambukan lawan. Caci secara etimologis berasal dari dua kata yaitu Ca yang berarti satu, dan Ci yang berarti lawan. Jadi Caci berarti tarian seorang melawan seorang yang lain. Tarian ini menggambarkan suka cita masyarakat Manggarai. Caci merupakan tarian kesatriaan para Caci adalah sebuah tari perang di mana sepasang lelaki bertarung di sebuah lapangan dengan menggunakan cambuk dan perisai. Penari yang memegang cambuk bertindak sebagai penyerang dan penari lainnya yang memegang perisai bertindak sebagai seorang yang bertahan. Para pemain Caci dibagi menjadi dua kelompok yang secara bergantian bertukar posisi sebagai kelompok penyerang dan sebagai kelompok bertahan. Caci selalu dimainkan oleh kelompok tuan rumah ata one dan kelompok pendatang dari desa lain ata peang. Beberapa pernak-pernik dalam Caci dalam bahasa Manggarai adalah, panggal, lalong ndeki, nggororng, nggiling, aging, larik, sapu dan songke. Dalam Caci, tidak boleh menyerang bagian tubuh dari pinggang ke bawah. Para pemain hanya diperbolehkan menyerang bagian tubuh dari pinggang ke atas. Bila pukulan lawan tidak dapat ditangkis, maka pemain akan terkena pecutan dan mendapatkan luka cambukan. Dan jika mata terkena cambukan maka pemain dinyatakan kalah beke, dan kedua pemain langsung segera diganti. Tari Caci hanya dilaksanakan apabila ada acara penting. Misalnya pada upacara penti, ritual tahun baru, upacara pembukaan lahan, dan upacara besar secara sepintas, Caci adalah sebuah tontonan hiburan yang mengandung unsur kekerasan di dalamnya. Namun jika kita melihat lebih dalam, kita akan menyadari bahwa tarian ini merupakan budayatradisional Manggarai yangmerupakan ekspresi budaya Manggarai. Menurut Edi, Maria Grace Putri, program studi pendidikan pancasila dan kewarganegaraan, jurusan hukum dan kewarganegaraan, fakultas ilmu sosial, Universitas Negeri Malang, dengan judul “Nilai Moral yang Terkandung dalam Tarian Caci di Desa Batu Cermin Kecamatan Komodo Kabupaten Manggarai Barat, dalam peneliti Edi, Maria Grace Putri, Nilai moral merupakan nilai mengacu pada tindakan manusia berkaitan dengan baik atau buruknya tindakan manusia dalam Vol. VII. Issu 2. Juli- De se mber 2019 E_ISSN 2339-2401/P_ISSN 2477-0221 237 Equlibrium Jurnal Pendidikan Sosiologi kehidupannya. Nilai moral berkaitan dengan perbuatan baik dan buruk yang menjadi dasar kehidupan manusia dan masyarakat. Nilai-nilai moral yang ada dalam suatu kesenian dapat menjadi nilai-nilai yang bisa ditiru dan dipraktekkan dalam kehidupan kita. Berkaitan dengan hal tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk mendeskrpsikan nilai-nilai moral yang terkandung dalam tarian caci agar nilai-nilai moral tersebut bermanfaat baik di depan kita. Teori Materialisme kebudayaan adalah salah satu paham yang beranggapan bahwa manusia hidup didunia, dia sebenarnya hidup didunia materi. Dia mau hidup, harus makan, dia mau menata sistem nilai dan budayaanya harus menggunakan alat materi. Materialisme berpandangan kebudayaan adalah hasil kumpulan pikiran yang dipelajari dan kelakuan yang diperlihatkan oleh anggota dari kelompok sosial masyarakat, yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pandangan materialisme ini berkaitan dengan hubungan manusia dengan lingkungannya, oleh Marvin Haris, disebut variabel yang bersifat empiris dan ini distilahkan dengan teknoekonomi dan teknolingkungan. Berdasarkan teori tentang kebudayaan yang sudah dipaparkan diatas, peneliti menyimpulkan bahwa kebudayaan adalah seluru cara dari kehidupan masyarakat dan tidak hanya mengenai sebagian tatacara hidup saja yang dianggap lebih tinggi dan lebih diinginkan” jadi, kebudayaan menunjuk pada berbagai aspek kehidupan. Istilah ini meliputi cara-cara berlaku, kepercayaan-kepercayaan dan siskp-sikap dan juga hsil dari kegiatan manusia yang khas untuk suatu masyarakat atau kelompok penduduk tertentu. Hal ini terjadi karena manusia mencontohi sesuatu yang dilakukan oleh generasi sebelumya atau lingkungan disekitarnya yang dianggap baik dan berguna dalam hidupnya begitu juga dengan budaya tarian caci yang dimiliki oleh masyarakat manggarai yang merupakan hasil dari realitas obyektivitas manusia menghasilkan kenyataan obyektif hasil ciptaan leluhur terdahulu yang diserap kembali oleh generasi setelahnya atau selalu meregenerasikan nilai-nilai budaya tarian caci yang merupakan warisan leluhur. Penelitian terdahulu di atas membahas tentang identitas budaya dan maknanya dalam tarian caci orang manggarai dan nilai moral yang terkandung dalam tarian caci, maka dari itu dalam penelitian ini, peneliti membahas tentang Nilai-nilai budaya dalam tarian caci pada masyarakat manggarai desa kazu wangi kabupaten manggarai timur. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis metode penelitian menggunakan penelitian etnografi-kualitatif dalam pendekatan fenomenologi di mana data diperoleh melalui pengamatan langsung dengan cara observasi, wawancara, dan studi pustaka Bogdan dan Taylor dalam Sumaryanto, 2010 74. Dalam penelitian etnografi kualitatif, data yang diperoleh tidak dapat dituangkan dalam bentuk bilangan atau angka statistik, peneliti memaparkan gambaran mengenai hasil yang diteliti dalam bentuk naratif untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada di objek penelitian. Dalam hal ini, yang menjadi objek penelitian adalah Nilai- Nilai Kesenian Budaya Tarian Caci Pada Masyarakat Manggarai Desa Kazu Wangi Kabupaten Manggarai Timur Peneliti memfokuskan penelitian ini pada konsep/ pandangan, ciri/ karakteristik Kesenian budaya Tarian Caci merupakan sebuah rumusan masalah penelitian ini. Penggunaan metode penelitian etnografi kualitatif merupakan cara untuk membedah materi penelitian yang mengacu kepada tujuan penelitian yang telah dipaparkan. HASIL DAN PEMBAHASAN Identitas budaya tercermin dalam bahasa, nyanyian, cara berpakaian, dan etika moral. Identitas ini termanifestasi dalam tarian caci di manggarai. Berdasarkan hal ini, kita akan melihat makna yang terkandung dalam budaya tarian caci masyarakat manggarai. Vol. VII. Issu 2. Juli- De se mber 2019 E_ISSN 2339-2401/P_ISSN 2477-0221 238 Equlibrium Jurnal Pendidikan Sosiologi 1. Nilai Bahasa dan Nyayian keindahan, keselaransan, dan kerendahan hati Tarian caci pada dasarnya menarik ketika seorang pemain caci setelah menerima pukulan atau memberi pukulan, berbicara dan bernyanyi. Pembicaraan dan nyanyian yang dilakukan menggunakan bahasa yang indah dengan istilah-istilah yang menarik perhatian yang digunakan tentunya menggunakan bahasa daerah seorang pemain caci dilihat dari keindahan dalam berkata-kata dan menyanyi selaras dengan caranya bertarung yang diiringi dengan bunyi gong dan gendang serta nyanyian lainnya sanda. Selain itu, bahasa dan nyanyiannya akan indah ketika tidak membuat orang yang menonton dan khususnya lawannya tersinggung. Ataupun sebaliknya, ketika peterung tersebut terkena pukulan, keindahan bahasa dalam menyampaikan apa yang menimpanya secara menarik dengan istilah-istilah tersembunyi dan bermakna. Berdasarkan hasil wawancara dengan pemain caci yaitu bapak yang berinisial F M, 34 tahun berpendapat bahwa “Dalam memerankan permainan caci kita harus memiliki kecakapan dalam berbahasa dan memiliki keindahan suara karena itu merupakan sebuah modal yang dapat menarik animo para penonton sehingga dengan demikian potensi yang kita miliki dapat di akui oleh orang banyak tegasnya”. Dari hasil wawancara dengan bapak inisial FM, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya seorang pemain caci harus memiliki kecakapan dalam berbahasa dan memiliki suara yang indah dalam menggunakan bahasa daerah manggarai yang dapat dilihat dari keindahan dalam berkata-kata dan menyanyi selaras dengan caranya bertarung yang diiringi dengan bunyi gong dan gendang. Tarian caci pada dasarnya menarik ketika seorang pemain caci setelah menerima pukulan atau memberi pukulan, berbicara dan bernyanyi. Pembicaraan dan nyanyian yang dilakukan menggunakan bahasa yang indah dengan istilah-istilah yang menarik perhatian penonton. Bahasa yang digunakan tentunya menggunakan bahasa daerah manggarai. 2. Nilai Cara berpakaian. Dalam memerankan tarian caci ada pakaian tertentu yang di gunakan oleh para penari sehingga tercipta keserasian dan kekompakan dalam pertunjukan tarian caci. Pakaian yang digunakan antara lain panggal yang berfungsi sebagai penyokon kepala, selendang, kain songke, ikat pinggan, nggiring, dan celana panjang berwarna putih. Demikian juga saat wawancara dengan bapak yang berinisial GJ, 25 tahun sebagai penari berpendapat bahwa “sebagai seorang yang memiliki bakat bermain caci tentunya kita harus mempersiapkan perlengkapan-perlengkapan yang menunjang terlaksananya pertunjukan tarian caci baik dari perlengkapan yang terkecil hingga yang terbesar sehingga dapat menciptakan nilai keserasian saat mementaskan tarian caci”. Dari hasil wawancara dengan bapak inisial GJ, dapat disimpulkan bahwa sebagai seorang pemain caci yang memiliki bakat, tentu haruslah memiliki berbagai perlengkapan-perlengkapan pakaian yang dapat menunjang terlaksananya pertunjukan tarian caci, sehingga tercipta keserasian dan kekompakan dalam memerankan tarian caci. Peralatan tarian caci yang terbuat dari kulit kerbau melambangkan kekuatan, ketenangan, kerendahan hati, dan tidak emosional, sedangkan bentuknya yang relatif bundar melambangkan adanya satu titik pusat yang mengatur semuanya, itulah Tuhan Yang Maha Esa. Vol. VII. Issu 2. Juli- De se mber 2019 E_ISSN 2339-2401/P_ISSN 2477-0221 239 Equlibrium Jurnal Pendidikan Sosiologi 3. Nilai Etika Moral Permainan caci atau tarian caci merupakan sebuah identitas budaya orang manggarai. Meskipun, ini adalah sebuah pertarungan, tetapi etika moral tetap menjadi hal yang utama yang harus diperhatikan. Etika moral kemanusiaan adalah yang utama dalam tarian ini. Dalam hal ini, pertarungan atau perkelahian tentunya akan berlawanan dengan etika moral, tetapi dalam permainan caci, etika moral tetap menjadi yang utama lewat sikap tanggun jawab dan saling menghargai dalam sebuah pertarungan. Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak yang berinisial GE, 30 tahun sebagai anggota masyarakat mengatakan bahwa “saya sudah sering mengikuti pertunjukan tarian caci dibeberapa kampung namun sebelum saya dan teman-teman ikut serta dalam mementaskan tarian caci ada etika moral yang harus dipatuhi bersama demi terlaksananya pementasan tarian caci sesuai dengan apa yang diharapkan oleh tokoh masyarakat setempat,, dengan kami sebagai pengunjung untuk memeriahkan pelaksaan tarian caci sehingga terhindar dari hal-hal yang tidak di inginkan bersama”. Dari hasil wawancara dengan bapak inisial GE 30 tahun dapat disimpulkan bahwa hal yang sadari bersama adalah pentingnya mengerti dan memahami etika moral yang terkandung dalam budaya tarian caci sehingga terciptanya sebuah situasi yang kondusif baik tokoh masyarakat setempat yang berfungsi sebagai pelayan terlaksananya budaya tarian caci dan juga bagi para pengunjung yang memeriahkan atau menyukseskan pementasan atau pertunjukan budaya tarian caci . Pemain caci atau tarian caci merupakan sebuah identitas budaya orang manggarai. Meskipun, ini adalah sebuah pertarungan, tetapi etika moral tetap menjadi hal yang terutama yang harus diperhatikan. Etika moral kemanusiaan adalah yang terutama dalam tarian ini. Dalam hal ini, pertarungan atau perkelahian tentunya akan berlawanan dengan etika moral, tetapi dalam permainan caci, etika moral tetap menjadi yang utama lewat sikap tanggun jawab dan saling menghargai dalam sebuah pertarungan. 4. Nilai Darah, Keringat, dan Air Mata kejantanan, keramaian, kemegahan, dan sportivitas Darah, keringat, dan air mata terus menerus hadir selama tarian caci berlangsung. Darah, keringat, dan air mata ini tidak akan membuat orang-orang yang hadir dan bertarung mengalah. Mereka tidak pernah menyerah sampai di katakan “Rowa” mati. Tetapi, mati di sini berarti petarung terkena cambukan di daerah kepala wajah dan tangan. Meskipun tubuh mereka terkena cambukan hingga berdarah, berkeringat dan air mata mengalir malah jusrtu akan menciptakan pertarungan semakin seru. Sebab darah, keringat dan air mata dalam tarian caci mengandung makna kepahlawanan dan keperkasaan. Namun dalam caci, keperkasaan tidak harus dilakoni lewat kekerasan namun juga lewat kelembutan yang ditunjukkan dalam gerakan-gerakan yang bernuansa seni. Tarian caci diiringi bunyi gendang dan gong serta nyanyian para pendukungnya yang menunjukkan kemegahan acara tersebut, namun suatu hal yang sangat penting dari sebuah pementasan tarian caci adalah bagaimana memberikan makna simbolik bagi masyarakat manggarai yang diantaranya adalah sebagai berikut Nilai kepahlawanan yaitu seorang pemain caci harus memiliki jiwa yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam permainan caci, yang tidak harus diakhiri dengan rasa dendam terhadap pemain lawannya. Nilai keperkasaan yaitu dalam permainan tarian caci , keperkasaan tidak harus dilakoni lewat kekerasan namun juga lewat kelembutan yang ditunjukkan dalam gerakan-gerakan yang bernuansa seni. Nilai sportivitas yaitu dalam permainan tarian caci seorang penari haru bersikap adil jujur terhadap lawan, sikap bersedia mengakui keunggulan kekuatan dan kebenaran lawan. Vol. VII. Issu 2. Juli- De se mber 2019 E_ISSN 2339-2401/P_ISSN 2477-0221 240 Equlibrium Jurnal Pendidikan Sosiologi Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak yang berinisial SW, 36 tahun sebagai seorang penari yang sangat berbakat dalam bidang tarian caci mengatakan bahwa “sesuai dengan pengalaman peribadi yang saya perna alami dalam berbagai pertempuran tarian caci, hal yang paling penting untuk kita sadari adalah bahwa pementasan tarian caci itu bukanlah sebuanh pertarungan yang mematikan, walaupun terkandung unsur kekersan didalamnya, tapi tujuan dari pelaksanaan tariaan caci ini adalah sebagai bentuk ekspresi kebahagiaan masyarakat setempat atas berbagai usaha yg dilakukan oleh mereka dalam setahun penuh,jadi ketika setiap penari memamahami hal ini maka dalan permainan caci kita dapat menenemukan nilai-nilai simbolik yang terkandung didalamnya seperti nilai kepahlawanan, nilai keperkasaan, nilai ketangkasan dan nilai sportivitas. Tegasnya. Dari hasil wawancara bersama bapak inisial SW, 36 tahun dapat disimpulkan bahwa dalam pementasan tarian caci pentingnya membangun kesadaran bersama atas nilai-nilai yang terkandung dalam budaya tarian caci itu sendiri yang dimana diantaranya nilai etika moral, nilai keringat dan darah, nilai cara berpakaian, dan nilai bahasa dan nyanyian yang diekspresikan oleh para penari saat mementaskan tarian caci, dengan memahami hal tersebut diatas maka pelaksanaan budaya tarian caci akan berjalan dengan baik seperti yang diharapkan oleh tokoh adat dan masyarakat setempat dan juga para pengunjung yang ikut terlibat dalam meramaikan pementasan tarian caci. Darah, keringat dan air mata dalam tarian caci mengandung makna kepahlawanan dan keperkasaan. Namun dalam caci, keperkasaan tidak harus dilakoni lewat kekerasan namun juga lewat kelembutan yang ditunjukkan dalam gerakan-gerakan yang bernuansa seni. Tarian caci diiringi bunyi gendang dan gong serta nyanyian para pendukungnya yang menunjukkan kemegahan acara tersebut. KESIMPULAN Dari seluruh lingkaran penyusunan dan penelitian yang dibuat oleh penulis, maka penulis menarik sebuah kesimpulan dari keseluruhan tulisan ini. Kesimpulan ini menjadi uraian terakhir dari penulis. Semoga rangkaian tulisan ini mengantar penulis dan pembaca untuk mengetahui apa dan bagaimana itu nilai-nilai budaya tarian caci pada masyarakat manggarai Desa Kazu Wangi Kabupaten Manggarai Timur. Caci merupakan ungkapan syukur yang dimanifestasikan dalam permainan. Caci menjadi sebuah simbol dengan berbagai macam nilai didalamnya, dan nilai nilai itulah yang dikemas dalam keseluruhan permainan caci. Adapun maksudnya ialah agar masyarakat manggarai memiliki nilai juang, mempunyai jiwa sebagai ata rona seorang lelaki pemberani dan gagah perkasa. Tarian caci memperlihatkan nilai seni yang sangat tinggi, mulai dari gerak seni tarian lomes, seni suara bokak, seni lukis ornament-ornamen caci, seni rupa atau seni tenun motif-motif tenunan pada kain songke, selendang, sapu tangan yangb digunakan penari caci. Kesenian ini memiliki pesan damai didalamnya, seperti semangat sportivitas, saling menghormati, dan diselesaikan tanpa dendam diantara para penari. DAFTAR PUSTAKA Bakker, JWM, 1992, Filsafat Kebudayaan, Sebuah Pengantar, Yogyakarta kanisius. Creswell John W. 2009. “Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed” Yogyakarta Pustaka pelajar Dagur, Anthony Bagul, 1977, Kebudayaan Manggarai Sebagai salah satu Khasanah Kebudayaan Nasional, Surabaya, Ubhara Press. De Rosari, Anton BL, 1988, Kedudukan Kebudayaan Daerah dalam Pembangunan Kebudayaan Nasional, Kupang. Depertemen Kebudayaan dan Pendidikan, 2005, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta Balai Pustaka Hadi, Y. Sumandiyo. 2005. Sosiologi Tari Sebuah Pengenalan Awal. Yogyakarta Pustaka Pelajar. Vol. VII. Issu 2. Juli- De se mber 2019 E_ISSN 2339-2401/P_ISSN 2477-0221 241 Equlibrium Jurnal Pendidikan Sosiologi Prastowo, 2014. Metode penelitian Kualitatif dalam perspektif Rancangan penelitian Puersen, Van., 1993, Strategi Kebudayaan, Yogyakarta Kanisius. Soekmono, R., 1990, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Yogyakarta Kanisius Sugiyono. 2013, “metode peneliti kualitatif dan kuantatif dan R&D. Bandung. Alfabeta. Sutrisno, Mudji dan Putranto, Hendar. 2005. Teori-Teori Kebudayaan. Yogyakarata Kanisius Yogyakarta. Soekanto, Soerjono. 2013. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta Raja Grapindo Persada. Usman, Hasan, Haji, 1988, Pranan Kebudayaan Daerah dalam Menunjang Pembangunan Nasional, Nusa Tenggara Timur Panitia Pelaksana Temu Budaya Daerah Tingkat I. Verheijen, jilis, 1991, Manggarai dan Wujud Tertinggi, Penerjemah Alex Beding dan Marcel Beding, Jakarta lIPI_RULL. Yatman, Darmanto, 1988, Pandangfan Pemangku Kebudayaan Daerah Nasional Indonesia, Surakarta Kantor Wilayah Departemen pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this penelitian Kualitatif dalam perspektif Rancangan penelitian PuersenPrastowoPrastowo, 2014. Metode penelitian Kualitatif dalam perspektif Rancangan penelitian Puersen, Van., 1993, Strategi Kebudayaan, Yogyakarta Sejarah Kebudayaan Indonesia, Yogyakarta Kanisius Sugiyono. 2013, "metode peneliti kualitatif dan kuantatif dan R&DR SoekmonoSoekmono, R., 1990, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Yogyakarta Kanisius Sugiyono. 2013, "metode peneliti kualitatif dan kuantatif dan R&D. Bandung. Suatu Pengantar. Jakarta Raja Grapindo PersadaSoerjono SoekantoSoekanto, Soerjono. 2013. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta Raja Grapindo Kebudayaan Daerah dalam Menunjang Pembangunan NasionalUsmanHaji HasanUsman, Hasan, Haji, 1988, Pranan Kebudayaan Daerah dalam Menunjang Pembangunan Nasional, Nusa Tenggara Timur Panitia Pelaksana Temu Budaya Daerah Tingkat YatmanYatman, Darmanto, 1988, Pandangfan Pemangku Kebudayaan Daerah Nasional Indonesia, Surakarta Kantor Wilayah Departemen pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah.
WAELENGGA, — Masyarakat di Pulua Flores, Nusa Tenggara Timur memiliki warisan leluhur yang terus dilestarikan oleh generasi muda yang tersebar di berbagai di kampung. Mulai dari Pulau Lembata hingga di Manggarai Barat, kearifan lokal dalam seni tari terus dirawat dan dipentaskan dalam berbagai event budaya dan pariwisata. Baca juga Tradisi Tengge Kain Songke dan Tradisi Lorang Khas Flores BaratTepi Woja terdiri dari kata "Tepi" yang berarti memisahkan dan "Woja" berarti padi. Jadi tarian Tepi Woja dapat diterjemahkan tarian memisahkan gabah ini mengingatkan kembali bagi generasi muda di era milenial bahwa leluhur orang Manggarai Timur pernah memakai doku atau nyiru sebagai bahan tepi woja. Baca juga Tradisi Gerep Rugha Manuk, Warisan Leluhur Orang Kolang di Flores Pengembangkan seni tari itu dilaksanakan di lembaga pendidikan di seluruh Pulau Flores. Dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi di Pulau Flores. MAKUR Para penari dari SMPK Waemokel, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT mementaskan tarian Tepi Woja, Sabtu 17/8/2019 saat memeriahkan HUT Ke-74 RI tingkat Kecamatan Kota Komba. Penari SMPK Waemokel mempromosikan kearifan lokal yang berkaitan tradisi pertanian di wilayah Manggarai penerus orang Flores terus menjaga dan mempertahankan berbagai jenis seni tari tersebut dengan mengikuti berbagai pergelaran seni tari di berbagai event-event budaya dan pariwisata.
pakaian adat manggarai timur